Teman - teman karena hari ini kita memperingati hari Santa Teresa dari
Avilla .. ni saya beri info tentang santa Teresa dari Avilla ...
Teresa de Cepeda y Ahumada dilahirkan pada 1515 di Gotarrendura, Spanyol. Kakek dari ayahnya, Juan de Toledo, adalah seorang orang Yahudi yang beralih ke Kristen dan dituduh oleh Inkuisisi Spanyol
karena kembali ke kepercayaan Yahudi. Ayahnya, Alonso Sánchez de
Cepeda, membeli gelar ksatria dan berhasil berasimilasi ke dalam
lingkungan Kristen. Ibu Teresa, Beatriz, mendidik anaknya ajaran
Kristen. Teresa merasa kagum oleh kehidupan para santo, dan lari dari
rumah pada umur tujuh bersama saudaranya Rodrigo untuk mencari martirdom di antara Moors. Pamannya mencegah mereka pada saat dia kembali ke kota dan melihat mereka di luar tembok kota.
Pada umur 20 Teresa meninggalkan rumah ayahnya, dan masuk ke biara
Inkarnasi Karmelit di luar Avila. Di dalam biara, dia menderita
penyakit. Pada masa awal sakit, dia mengalami periode ekstasi keagamaan melalui bacaan "Tercer abecedario espiritual," (Alfabet Spiritual Ke-3) yang dipublikasi pada 1527 dan ditulis oleh Francisco de Osuna. Dia juga membaca buku Tractatus de oratione et meditatione karya Peter Alcantara.
Pada 1556, banyak teman manyatakan bahwa pengetahuannya berasal dari Setan. Dia mulai menjalani penyiksaan diri dan mortifikasi badan. Tapi rekannya, Santo Francis Borgia seorang Yesuit, memastikan dia bahwa inspirasinya berasal dari Tuhan. Pada hari St. Peter di 1559, Teresa yakin bahwa Yesus Kristus hadir dalam tubuhnya. Visi Yesus Kristus ini hadir selama 2 tahun. Dalam visi lainnya, Teresa menulis seraph
menusukan tombak emas ke jantungnya, menyebabkan sakit jasmani-rohani.
Ingatan akan kejadian ini mendorongnya dan memotivasinya untuk mengikuti
penderitaan Yesus, tercatat sebagai motonya: "Bapa, biarkan aku
menderita atau biarkan aku mati."
Minggu, 14 Oktober 2012
Istana Tampak Siring
Istana Tampaksiring adalah istana yang dibangun setelah Indonesia merdeka, yang terletak di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali.
Nama Tampaksiring berasal dari dua buah kata bahasa Bali, yaitu "tampak" dan "siring", yang masing-masing bermakna telapak dan miring. Konon, menurut sebuah legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja yang bernama Mayadenawa. Raja ini pandai dan sakti, namun sayangnya ia bersifat angkara murka. Ia menganggap dirinya dewa serta menyuruh rakyatnya menyembahnya. Akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra marah dan mengirimkan bala tentaranya. Mayadenawa pun lari masuk hutan. Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap para pengejarnya tidak mengenali jejak telapak kakinya.
Namun demikian, ia dapat juga tertangkap oleh para pengejarnya. Sebelumnya, ia dengan sisa kesaktiannya berhasil menciptakan mata air yang beracun yang menyebabkan banyak kematian para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air tersebut. Batara Indra kemudian menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun itu yang kemudian bernama "Tirta Empul" ("air suci"). Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan sambil memiringkan telapak kakinya itu terkenal dengan nama Tampaksiring.
Istana ini berdiri atas prakarsa Presiden Soekarno yang menginginkan adanya tempat peristirahatan yang hawanya sejuk jauh dari keramaian kota, cocok bagi Presiden Republik Indonesia beserta keluarga maupun bagi tamu-tamu negara.
Arsiteknya adalah R.M. Soedarsono dan istana ini dibangun secara bertahap. Komplek Istana Tampaksiring terdiri atas empat gedung utama yaitu Wisma Merdeka seluas 1.200 m dan Wisma Yudhistira seluas 2.000 m dan Ruang Serbaguna. Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira adalah bangunan yang pertama kali dibangun yaitu pada tahun 1957. Pada 1963 semua pembangunan selesai yaitu dengan berdirinya Wisma Negara dan Wisma Bima.
Minggu, 07 Oktober 2012
Misteri Keberadaan Kerajaan Surga Dunia di Tibet
Dongeng tentang surga yang berada di bumi merupakan mitos paling abadi.
Mulai dari epik bangsa Sumeria sampai kepulauan blest dalam literatur
bangsa Celtic. Tema ini begitu melegenda dan berulang-ulang diangkat
selama berabad-abad.
Maka tidak mengejutkan orang yang sudah modern pun memimpikan surga yang hilang dimana kesengsaraan hilang, manusia hidup dengan harmonis dengan alam dan ketika pengetahuan mengenai planet ini tersimpan secara abadi untuk generasi berikutnya. Dengan kata lain sampai ke Shangri-La.
Cerita tentang Shangri-La itu sendiri merupakan cerita
modern yang diceritakan oleh seorang novelis terkenal dari Inggris,
James Hilton dalam novelnya yang berjudul Lost Horizon pada tahun 1933.
Di ceritakan dengan latar belakang Perang Dunia Kedua, buku ini
memaparkan sebuah komunitas biara yang terdiri dari biksu Tibet (Lama)
di lembah Tibet yang hilang yang disebut Shangri-La, memisahkan diri
dari dunia dan waktu.
Semua pengetahuan manusia terkandung di tempat ini, barang-barang warisan budaya tersimpan secara rapi dan dalam benak orang-orang yang berkumpul ditempat ini siap untuk mengahadapi kiamat yang tak terelakkan.
Buku ini begitu sangat terkenal dan mendapatkan sukses besar karena penjualannya yang begitu meledak. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya manusia merindukan suatu tempat yang tenang seperti surga di bumi ini.
Sebenarnya James Hilton mendapatkan inspirasi menulis Shangri-La dari mitos yang Shambala yang berasal dari Tibet itu sendiri. Dalam tradisi Buddha Tibet, Shambala merupakan sebuah kerajaan rahasia yang tersembunyi yang berada dibalik puncak es pegunungan Himalaya.
Shambala disebut-sebut dalam berbagai teks kuno termasuk Kalachakra dan teks budaya kuno Zhang Zhung yang muncul sebelum Buddha Tibet berada di wilayah barat Tibet. Literatur suci Bon yang ditulis tangan oleh bangsa Tibet kuno juga menyebutkan tempat yang hampir serupa namun diberi nama Olmolungring.
Shambala diambil dari dua kata Sanksekerta yakni “swayam” dan “bhala” yang bila digabung berarti “pemberdayaan diri”. Shambala secara umum dianggap sebagai sebuah tempat dimana kedamaian, ketenangan, kebahagiaan bertahta. Terkadang juga dipercaya sebagai suatu komunitas yang telah mendapatkan pencerahan dalam tradisi umat Buddha. Dikatakan juga Shambala memiliki ibukota yang bernama Kalapa.
Maka tidak mengejutkan orang yang sudah modern pun memimpikan surga yang hilang dimana kesengsaraan hilang, manusia hidup dengan harmonis dengan alam dan ketika pengetahuan mengenai planet ini tersimpan secara abadi untuk generasi berikutnya. Dengan kata lain sampai ke Shangri-La.
| ilustrasi shambala |
Semua pengetahuan manusia terkandung di tempat ini, barang-barang warisan budaya tersimpan secara rapi dan dalam benak orang-orang yang berkumpul ditempat ini siap untuk mengahadapi kiamat yang tak terelakkan.
Buku ini begitu sangat terkenal dan mendapatkan sukses besar karena penjualannya yang begitu meledak. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya manusia merindukan suatu tempat yang tenang seperti surga di bumi ini.
Sebenarnya James Hilton mendapatkan inspirasi menulis Shangri-La dari mitos yang Shambala yang berasal dari Tibet itu sendiri. Dalam tradisi Buddha Tibet, Shambala merupakan sebuah kerajaan rahasia yang tersembunyi yang berada dibalik puncak es pegunungan Himalaya.
Shambala disebut-sebut dalam berbagai teks kuno termasuk Kalachakra dan teks budaya kuno Zhang Zhung yang muncul sebelum Buddha Tibet berada di wilayah barat Tibet. Literatur suci Bon yang ditulis tangan oleh bangsa Tibet kuno juga menyebutkan tempat yang hampir serupa namun diberi nama Olmolungring.
Shambala diambil dari dua kata Sanksekerta yakni “swayam” dan “bhala” yang bila digabung berarti “pemberdayaan diri”. Shambala secara umum dianggap sebagai sebuah tempat dimana kedamaian, ketenangan, kebahagiaan bertahta. Terkadang juga dipercaya sebagai suatu komunitas yang telah mendapatkan pencerahan dalam tradisi umat Buddha. Dikatakan juga Shambala memiliki ibukota yang bernama Kalapa.
Langganan:
Postingan (Atom)

